Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil
Siradj menegaskan bahwa agama tidak bisa dicampuradukkan dengan politik.
“Prinsip yang penting
jangan mencampuradukkan agama dengan politik,” ujarnya seperti dilansir
Kompas.com.
Menurut Said Aqil, apabila agama dijadikan alat untuk
mengejar kepentingan politik, akan mudah sekali terjadi konflik.
“Jangan jadikan agama barang murah dalam mengejar target
politik. Ini asal muasal kita mudah marah,” ujar Said.
Sementara itu, Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid juga
mengungkapkan bahwa jika agama dijadikan sebagai komoditas politik, maka akan
ada dampak buruk.
“Itu akan berpengaruh buruk terhadap interaksi sosial di
masyarakat,” ujar Yenni.
Yenni mencontohkan bahwa konflik yang terjadi di beberapa
daerah selama ini seperti di Ambon dan Poso adalah salah satu contoh dampak
buruknya.
“Itu merupakan akibat dari sentimen agama yang dibawa ke
dalam persoalan politik,” tambahnya.
Dia menegaskan agar di indonesia, sudah banyak daerah yang
terjadi konflik berdarah akibat SARA dipakai untuk urusan politik. Contohnya di
Ambon dan Poso.
“Jangan sampai agama dijadikan sebagai komoditas politik. Sudah
cukup bangsa ini mengalami konflik,” tegas Yenny.
